Fenty Effendy Nostalgia Sosok Sutopo Purwo Nugroho Bareng Pembaca di Bali

Fenty Effendy menyapa para pembaca di Bali dalam acara ngobrol santai 'Sutopo Purwo Nugroho Terjebak Nostalgia', 

Fenty Effendy Nostalgia Sosok Sutopo Purwo Nugroho Bareng Pembaca di Bali
Noviana Windri
Fenty Effendy dalam acara Ngobrol Santai 'Sutopo Purwo Nugroho Terjebak Nostalgia' di Mangsi Coffee, Jalan Tengku Umar, Denpasar, Jumat (24/1/2020) 

TRIBUNNEWSWIKI, BALI - Setelah meluncurkan buku biografi 'Sutopo Purwo Nugroho Terjebak Nostalgia' pada September 2019 lalu, Fenty Effendy menyapa para pembaca di Bali dalam acara ngobrol santai 'Sutopo Purwo Nugroho Terjebak Nostalgia', buku karangannya di Mangsi Coffee, Jalan Tengku Umar, Denpasar, Jumat (24/1/2020)

Dalam acara tersebut, mengupas tuntas tentang pribadi Pak Topo, sapaan akrabnya dan proses penulisan buku oleh Fenty Effendy.

"Untuk menulis buku ini. Saya selama seminggu hanya tidur ayam, 3-4 jam saja tidur," ujarnya.

Biografi Almarhum Pak Topo ini ditulis oleh Fentu Effendy yang secara eksklusif mewawancarai sebelum Almarhum Pak Topo wafat dan masih menjabat sebagai Kepala Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (PNPB).

Ni Ketut Arini

"Setahu saya langka ketika peneliti menjadi humas. Salah satu inspirasi dari Pak Topo adalah membangun kreadibilatas bukan hanya punya jabatan. Menyebarkan literasi kebencanaan, kabar yang benar dan yang baik untuk melawan hoax," tambahnya.

Proses penulisan buku biografi ini juga tidak luput dari kendala.

Dengan terkejar waktu dan kondisi Pak Topo yang makin menurun karena kanker paru-paru yang diidapnya.

"Sempat tiga kali gagal wawancara Pak Topo. Karena kondisi Pak Topo yang kadang sakit. Akhirnya saya memutuskan untuk pergi ke Boyolali mewawancarai keluarga, guru, teman-teman Pak Topo," sambungnya.

Ngobrol santai buku biografi tentang 'Sutopo Purwo Nugroho Terjebak Nostalgia' juga dikupas oleh Dr. Kadek Dwita Apriani, MIP seorang peneliti dan akademis Bali.

Anthea Griffin

Ia mengaku yang paling dramatis dari sosok Pak Topo adalah saat bencana Palu masih melakukan live di TV dengan wajah yang pucat untuk melaporkan kondisi terkini bencana Palu.

"Saat membaca buku ini, ternyata lebih dalam sosok Pak Topo. Buat saya yang paling dalam dalam adalah Pak sutopo tidak pernah mengatakan 'saya sakit' tetapi tetap menjalankan profesinya. Bagaimana dia memisahkan tugasnya mengabdi terhadap negara dan kehidupan pribadinya," ujarnya.

Acara ngobrol santai ditutup dengan tanya jawab dengan audiens.

(TRIBUNNEWSWIKI/NOVIANA WINDRI)

Ikuti kami di
Penulis: Noviana Windri Rahmawati
Editor: Nur Afitria Cika Handayani
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved