Peran Sosok I Nyoman Kaler dalam Kehidupan Ni Ketut Arini hingga Debut sebagai Penari

Selain pamannya, sosok I Nyoman Kaler juga ikut berperan dalam kehidupan maestro tari Bali ini.

Noviana Windri
Maestro Tari Bali, Ni Ketut Arini 

TRIBUNNEWSWIKI, BALINi Ketut Arini, maestro Tari Bali tertarik dengan tari sejak ia berusia 3 tahun.

Ia bisa menari berkat sang paman, I Wayan Rindi.

Selain pamannya, sosok I Nyoman Kaler juga ikut berperan dalam kehidupan maestro tari Bali ini.

Arini kecil selalu menemani hingga belajar tari dengan sang paman, sang paman sering menceritakan seorang guru tari, I Nyoman Kaler.

Nama I Wayan Kaler terus disebut oleh pamannya membuat Arini terus tertarik hingga akhirnya ia bersekolah di Sekolah Konservatori Kerawitan Indonesia Bali (KOKAR BALI) dan mulailah bertemu dengan I Nyoman Kaler.

Ni Ketut Arini Ungkap Awal Ketertarikan terhadap Seni Tari, Sebut Berawal dari Pamannya

I Nyoman Kaler sendiri menciptakan 10 karya tari, salah satunya Legong Kebyar pada tahun 1935.

“Saya sangat tertarik ketika paman saya selalu bercerita tentang Pekak Kaler. Karena terus sama mendengar nama Pekak Kaler. Saat saya sudah mulai bisa menari saat umur 10 tahun saya langsung bersekolah di KOKAR. Di sanalah saya berkenalan dengan Pak Kaler,” ujarnya.

Dari perkenalan tersebut, Arini mengatakan bahwa I Nyoman Kaler terus mengajarinya menari dan cara merasakan setiap gerakan hingga ke hati.

Bahkan, I Nyoman Kaler yang tertarik dengan kemampuan menari Arini sering berkunjung ke rumahnya untuk menyaksikan Arini berlatih menari.

Debut Arini sebagai penari profisional tidak bisa dipisahkan dari I Nyoman Kaler.

Selain itu, I Nyoman Kaler pun yang meminta Arini untuk menjadi guru tari meski usianya masih belia.

Ni Ketut Arini

Arini dan muridnya dari Amerika Serikat, Rucina Balinger juga membuatkan simposium untuk sang guru, I Nyoman Kaler.

Untuk mengangkat kembali karya-karya sang guru antara lain Tari Panji Semirang, Mregapati, Wiranata, Demang Miring, Candrametu, Puspawarna, Bayan Nginte, Kupu-Kupu Tarum, dan Legong Kebyar.

“Saya berhutang budi dengan pak Kaler. Saya buatkan simposium untuk Pak Kaler pada tahun 2014. Dibantu dengan murid saya, Rucina Belinger,” ungkapnya.

Pada tahun 2010, Arini mendokumentasikan enam Tari Legong yang dikuasainya untuk arsip Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar dan menjadi bahan ajar untuk mahasiswa tari.

(TRIBUNNEWSWIKI/NOVIANA WINDRI)

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved