Cerita Arsitek dalam Pembuatan Ogoh-Ogoh ‘Legu Gondong’  

I Wayan Gede Pratama Putra, arsitek ogoh-ogoh ‘Legu Gondong’ dari STT Dharma Subhiksa, Panjer menceritakan kesulitannya dalam membuat ogoh-ogoh.

Cerita Arsitek dalam Pembuatan Ogoh-Ogoh ‘Legu Gondong’   
Noviana Windri
I Wayan Gede Pratama Putra, arsitek ogoh-ogoh ‘Legu Gondong’ dari STT Dharma Subhiksa saat ditemui Tribun Bali, Rabu (4/3/2020) 

TRIBUNNEWSWIKI, BALI – Membuat ogoh-ogoh berbahan ramah lingkungan tentu menjadi tantangan tersendiri bagi arsitek ogoh-ogoh dan para pemuda STT.

Selain itu, juga dikombinasikan dengan teknologi hingga membuat ogoh-ogoh lebih hidup dengan bagian yang bisa bergerak.

I Wayan Gede Pratama Putra, arsitek ogoh-ogoh ‘Legu Gondong’ dari STT Dharma Subhiksa, Panjer menceritakan kesulitannya dalam membuat ogoh-ogoh berlapis biji-bijian.

Diakuinya, dalam proses pembuatan ogoh-ogoh bagian tersulit yang dilakukan adalah proses pengeleman biji-bijian ke badan ogoh-ogoh.

Filosofi Ogoh-Ogoh ‘Legu Gondong’ Milik STT Dharma Subhiksa Panjer

“Bagian tersulit saat pengeleman beras dan biji lainnya. Itu yang paling tersulit bagi saya,” ungkapnya.

Lebih lanjut, dijelaskannya pengeleman biji-bijian ke badan ogoh-ogoh tidak cukup sekali saja.

Ia dan pemuda STT lainnya bisa melakukan pengeleman hingga tiga kali agar lebih merekat dan rapi.

"Karena sekali nempel saja tidak bisa. Pasti lepas. Jadi saya memberi lemnya bisa dua dan tiga kali agar lebih kuat dan lama nempelnya," sambungnya.

Pembuatan ogoh-ogoh ‘Legu Gondong’ sendiri dimulai sejak pertengahan Januari 2020.

Selain biji-bijian juga menggunakan serbuk kayu dan cangkang telur.

Halaman
12
Ikuti kami di
Penulis: Noviana Windri Rahmawati
Editor: Nur Afitria Cika Handayani
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved