Desa Sidakarya

Desa Sidakarya merupakan bagian dari Kecamatan Denpasar Selatan, wilayah Kota Denpasar bagian selatan. Desa Sidakarya memiliki luas wilayah 398 Ha.

TRIBUNNEWSWIKI/Noviana Windri
suasana Kantor Perbekel Sidakarya, Denpasar, Rabu (18/3/2020) 

TRIBUNNEWSWIKI, BALI – Desa Sidakarya merupakan bagian dari Kecamatan Denpasar Selatan, wilayah Kota Denpasar bagian selatan.

Desa Sidakarya memiliki luas wilayah 398 Hektar.

Dengan jumlah penduduk sebanyak 14.945 jiwa dengan rincian 7588 laki-laki dan 7357 perempuan.

Desa Sidakarya saat ini memiliki 12 dusun dan 5 banjar pakraman.

Di Desa Sidakarya terdapat beberapa tempat beribadah diantaranya yaitu 22 buah pura, 4 buah mushola, dan 2 gereja Kristen Protestan.

Desa Adat Penglipuran

VISI

Terwujudnya Sidakarya Bersemi, Berbudaya, Sejahtera ,Maju, Inovatif

MISI

1. Melanjutkn Program-Program Yang Telah Dilaksanakan Pemerintah Desa Sidakaryaperiode Yang Lalu Sebagaimana Tercantum Dalam Dokumen Rpjm Desa Sidakarya 

2. Menciptakan Kondisi Masyarakat Desa Yang Tertib Dan Rukun Dalam Kehidupan Bermasyarakat Yang Berpegang Teguh Pada Prinsip "Duduk Sama Rendah Berdiri Sama Tinggi"

3. Pengoptimalisasi Penyelenggaraan Pemerintah Desa Meliputi A.Peyelenggaraan Pemerintah Desa Yang Transparan Dan Bisa Dipertanggungjawabkan
4. Pelayanan Prima Untuk Masyarakat Desa Sidakarya (Cepat, Tepat,Benar)

SEJARAH

Asal usul Desa Sidakarya yang berkembang di kalangan masyarakat Sidakarya adalah berdasarkan bukti tertulis yaitu lontar Sidakarya.

Dalam lontar tersebut dikatakan bahwa pada masa Pemerintahan Sri Dalem Waturenggong (tahun 1480 dampai dengan 1550) yang berkedudukan di Gelgel Klungkung, bermaksud mengadakan upacara nangluk merana di Pura Besakih dalam upaya meningkatkan kesejahteraan umatnya di bidang pertanian, perkebunan dan lain-lain.

Namun menjelang pelaksanaan upacara Nangluk Merana, terjadilah musibah yang menimpa masyarakat se-Bali dengan terjangkitnya wabah penyakit, serta pertanian tidak berhasil (gagal panen), sehingga masyarakat mengalami kelaparan dan terserang berbagai penyakit.

Atas petunjuk Ida SangHyang Widhi Wasa, dalam semedinya Raja memerintahkan patihnya untuk mencari Brahmana Keling yang pernah diusirnya dengan persyaratan akan diakui sebagai saudara apabila Sang Brahmana mampu menghilangkan wabah yang menyerang masyarakat Bali.

Ternyata benar, setelah Brahmana Keling tiba di istana dan mau diakui oleh Raja sebagai saudaranya, maka wabah yang menyerang masyarakat dapat seketika hilang, dan upacara nangluk merana di Pura Besakih dapat dilaksanakan dengan baik (Sidakarya).

Sebagai tanda penghargaan, maka beliau Sri Dalem Waturenggong (Dalem Klungkung) atas jasa Brahmana Keling yang telah mengembalikan kesempurnaan alam seperti semula, maka Brahmana Keling diberi gelar Dalem Sidakarya yang berstana di Bandana Negara (Pura Mutering Jagat Dalem Sidakarya) dengan sabda segala upacara yadnya madya, utama yang dilaksanakan oleh umat Hindu agar terlebih dahulu mendapat Tirta Sidakarya, sebagai Tirta Penyidakarya, yang sampai saat ini tetap dilakukan umat.

Selanjutnya sesuai dengan Surat Keputusan Gubernur Daerah Tingkat I Bali, Nomor 57 Tahun 1982 tanggal 1 Juni 1982, Desa Sidakarya dikukuhkan menjadi Desa Difinitif, yang mana sebelumnya masih menjadi satu dengan Desa Sesetan yang sekarang menjadi Kelurahan.

Sehingga dengan demikian, Desa Sidakarya resmi sebagai Desa Pemerintahan yang difinitif pada tanggal 1 Juni 1982, yang merupakan salah satu Desa di Kecamatan Denpasar Selatan, Kota Denpasar, Provinsi Bali.

Ikuti kami di
KOMENTAR
243 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved