Penyebab Harga Bawang Merah di Bali Naik Jadi Rp 10 Ribu Perkilo dalam Sepekan

Gatot Supriyatin menjelaskan bahwa penyebab kenaikan harga bawang merah disebabkan karena belum memasuki panen raya dan tidak adanya pasokan bawang me

Penyebab Harga Bawang Merah di Bali Naik Jadi Rp 10 Ribu Perkilo dalam Sepekan
TRIBUNNEWSWIKI/Noviana Windri
Salah satu pedagang di Pasar Kumbasari tengah menimbang bawang merah, beberapa waktu lalu 

TRIBUNNEWSWIKI, BALI - Harga bawang merah di Provinsi Bali semakin meroket, Senin (30/3/2020).

Berdasarkan data yang diterima dari Dinas Perindustrian dan Perdagangan Provinsi Bali, pada menjelang Hari Raya Nyepi, Senin (27/3/2020) lalu, harga bawang merah masih menyentuh harga Rp 34.375 ribu/kilogram.

Hingga Senin (30/3/2020), harga bawang merah naik Rp 10.365 ribu dan menyentuh harga Rp 44.740 ribu/kilogram.

Kasi Pengendalian Barang Pokok dan Barang Penting Disperindang Provinsi Bali, Gatot Supriyatin menjelaskan bahwa penyebab kenaikan harga bawang merah disebabkan karena belum memasuki panen raya dan tidak adanya pasokan bawang merah dari Bima dan Jawa.

Kelurahan Sumerta

"Dari distributor yang ada di Klungkung mengatakan karena tidak ada pasokan bawang merah dari Bima dan Jawa. Karena memang belum panen raya. Ada sih bawang merah, tetapi pasokan tidak begitu banyak," ujarnya saat dikonfirmasi, Senin (30/3/2020).

Lebih lanjut, pihaknya menyebutkan pasokan bawang merah untuk Provinsi Bali terbilang aman karena masih ada stok dari produksi petani bawang merah di Songan. Kintamani dan Gianyar.

"Kita tidak bisa prediksi harga tinggi sampai kapan. Tetapi untuk stok bawang merah aman. Karena produksi dari daerah Songan atau Gianyar kan masih ada. Dari Bali pokoknya ada stoknya di beberapa daerah," lanjutnya.

Stok Gula Pasir di Provinsi Bali Menipis, Dampaknya Harga Naik

Saat ditanya apakah merebaknya virus corona hingga membuat masyarakat kalap membeli kebutuhan juga menyebabkan harga bawang merah naik, pihaknya membantah hal tersebut dan mengatakan permintaan dari pasar masih normal.

"Belum (panic buying). Karena di pasaran juga masyarakat tidak ada yang kalap membeli kebutuhan. Permintaan masih normal-normal saja. Sebagian juga ada yang sepi," tutupnya

(TRIBUNNEWSWIKI, NOVIANA WINDRI)

Ikuti kami di
Penulis: Noviana Windri Rahmawati
Editor: Nur Afitria Cika Handayani
KOMENTAR

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved