Psikologi Anak Belajar di Tengah Pandemi

Seorang pakar psikolog, Sad Yuli Prihartati menilai kondisi pandemi Covid-19 yang mengharuskan belajar-mengajar di rumah bukanlah memprihatinkan.

Noviana Windri
---------- 

TRIBUN-BALIWIKI.COM, DENPASAR - Kebijakan belajar-mengajar dari rumah dinilai sebagai langkah preventif penyebaran Covid-19.

Namun, kebijakan belajar-mengajar di rumah tak jarang menyisakan masalah. 

Lalu bagaimana kondisi psikologi anak belajar di tengah pandemi?

Seorang pakar psikolog, Sad Yuli Prihartati menilai kondisi pandemi Covid-19 yang mengharuskan belajar-mengajar di rumah bukanlah memprihatinkan.

Namun, juga tidak bisa dihindari dan memang perlu dilakukan untuk mengantisipasi penyebaran Covid-19 yang lebih luas.

"Sebenarnya sekolah itu adalah proses pembelajaran yang komunikasinya dua arah. Harus bertemu, ada sentuhan-sentuhan, pembicaraan. Tetapi karena keadaan seperti ini yang mengaruskan anak-anak belajar di rumah yang sudah berlajar 5 bulan," jelasnya.

Lebih lanjut, Sad Yuli Prihartati menjelaskan saat tahun ajaran berganti, kondisi mental anak yang naik kelas berbeda dengan anak yang memasuki sekolah jenjang baru, seperti SD naik ke SMP dan lainnya.

Dimana kebijakan tentang orientasi sekolah dilakukan secara online seharusnya dilakukam dengan tatap muka dan mengenal lingkungan sekolah secara langsung.

Pemerintah Provinsi Bali Izinkan Masyarakat Shalat Idul Adha di Masjid atau Lapangan

Panduan Penyembelihan Hewan Qurban Idul Adha 2020 dari MUI Provinsi Bali

"Saat ini anak-anak kalau ditanya gurunya siapa jawabnya belum tau. Karena ini masa anak-anak harus mengenal semua dan banyak bersosialisasi serta berinteraksi," tuturnya.

Dalam proses belajar terdapat beberapa tahapan, yaitu tahap adaptasi dan sosialisasi.

Halaman
12
Ikuti kami di
Penulis: Noviana Windri Rahmawati
Editor: Nur Afitria Cika Handayani
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved