Kiprah A.A Gede Agung Wedhatama, Ketua Komunitas Petani Muda Keren

Banyak orang memilih untuk menghindari pekerjaan di bidang pertanian. Alasannya karena kotor, capek, panas, membuat kulit menjadi hitam, atau pekerja

zoom-inlihat foto Kiprah A.A Gede Agung Wedhatama, Ketua Komunitas Petani Muda Keren
Istimewa/Anak Agung Gede Agung Wedhatama
Anak Agung Gede Agung Wedhatama

Laporan Wartawan Tribun Bali, Noviana Windri Rahmawati

TRIBUNBALI.COM, DENPASAR – Banyak orang memilih untuk menghindari pekerjaan di bidang pertanian.

Alasannya karena kotor, capek, panas, membuat kulit menjadi hitam, atau pekerjaan yang kuno dan tidak menjanjikan.

Namun tidak bagi Anak Agung Gede Agung Wedhatama.

Agung Wedha, sapaan akrabnya, berkecimpung di dunia pertanian sejak tahun 2013.

Dimana saat itu ia fokus pada pengembangan pembuatan pupuk, penanaman, dan budidaya pada para petani dihulu melalui usaha miliknya yang bernama PT. Wedhatama Sukses Makmur.

Pada tahun 2017, ia melihat banyak permasalahan di dunia pertanian salah satunya adalah di pasar panen.

Pria lulusan S2 Master of Information and Technology Universitas Gajah Mada (UGM) berusaha membangun ‘Value chain’ pertanian dari hulu hingga hilir dengan cara membangun sebuah sistem pertanian yang terintegrasi dengan menggabungkan IT/Teknologi, budaya, kearifan lokal dan pertanian.

Tujuannya untuk memajukan bidang pertanian menjadi Agriculture 4.0 menjadi misi yang kini sedang diwujudkan.

“Jadi saat itu petani-petani kita yang tergabung dalam Komunitas Petani Muda Keren memiliki kesulitan dalam memasarkan produknya. Di sanalah saya berusaha mencari pasar. Akhirnya saya dapat pasar ekspor. Lalu saya dan para petani mulai lakukan ekspor. Dan saat ini, kita sudah masuk ke pasar retail dan hotel. Sehingga sekarang pekerjaan kami menjadi lebih holistik dari hulu ke hilir,” jelasnya Agung Wedha yang juga sebagai Ketua Komunitas Petani Muda Keren saat ditemui Tribun Bali, Jumat (24/7/2020).

Berkat kerja kerasnya, Komunitas Petani Muda Keren mendapat pasar ekspor untuk yang pertama kalinya yaitu buah manggis ke China.

Hingga saat ini, Komunitas Petani Muda Keren yang telah memiliki lebih dari 300 orang anggota di seluruh Bali telah menembus pasar Singapura, Eropa, dan Timur Tengah untuk untuk buah-buahan ataupun produk tropical.

Bagi pria kelahiran Singaraja ini, dunia pertanian adalah pekerjaan mata rantai yang tidak boleh terputus.

Di hulu membuat produk yang baik dan berkualitas, sedangkan di hilir juga harus bisa memasarkan produk yang dibuat.

Karena permasalahan besar di dunia pertanian adalah aktivitas pertanian yang terputus.

Ni Made Ananda Lestari

Komang Gede Erlangga Ari Chandra

“Jadi petani kebanyakan hanya fokus bertani. Namun untuk pemasaran mereka kebingungan. Akhirnya lahirlah tengkulak dan pengepul yang membuat keadilan perdagangan tidak terjadi. Dibeli semurah-murahnya di petani, dijual semahal-mahalnya di konsumen,” paparnya.

Melalui Komunitas Petani Muda Keren (PMK) ia menawarkan harga yang baik untuk petani sedangkan konsumen mendapatkan kualitas produk yang baik dan harga yang kompetitif.

Sejalan dengan passionnya, Agung Wedha menggabungkan teknologi untuk memperoleh ‘Big Data’ pertanian yang akan mempermudah proses Pasca Panen atau Hilirisasi.

Dengan teknologi (Farmers Apps) kegiatan bertani menjadi semakin effisien, terarah serta terukur.

Di tengah dibuat koperasi untuk mewadahi petani dalam proses produksi dan pemasaran.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved