Gejala dan Cara Ampuh Mengurangi Risiko Demensia atau Penyakit Pikun

Demensia atau pikun adalah penyakit yang menyebabkan sel otak memburuk dan mati lebih cepat dari biasanya. Demensia atau pikun bukanlah bagian dari p

Noviana Windri
Dokter spesialis Neurobehaviour RSUP Sanglah, Dr. dr. Anak Agung Ayu Putri Laksmi Dewi, Sp.S(K) 

TRIBUN-BALIWIKI.COM, DENPASAR - Demensia atau pikun adalah penyakit yang menyebabkan sel otak memburuk dan mati lebih cepat dari biasanya.

Demensia atau pikun bukanlah bagian dari penuaan normal lho, Tribunners.

Dokter spesialis Neurobehaviour RSUP Sanglah, Dr. dr. Anak Agung Ayu Putri Laksmi Dewi, Sp.S(K) menjelaskan demensia atau pikun lebih dari menurunnya kemampuan mengingat.

Demensia menyebabkan penderitanya tidak dapat menjalankan kegiatan sehari-hari atau activity daily living terganggu.

Sehingga sangat tergantung kepada orang lain untuk merawat dirinya.

"Secara umum gejala pada demensia meliputi terganggunya fungsi daya ingat, kesulitan untuk berkomunikasi, atau mencari kata-kata yang tepat, kesulitan menyusun perencanaan, kebingungan/disorientasi, bahkan perubahan emosi dan gejala psikiatri lainnya," terangnya dalam youtube PKRS Sanglah yang diakses pada Rabu (16/9/2020).

Gejala-gejala tersebut bersifat progresif artinya semakin memburuk secara bertahap seiring dengan perjalanan waktu.

Penyakit alzheimer yang merupakan penyebab demensia terbanyak di dunia dengan gejala yang muncul pada usia 65 tahun.

Namun, bisa juga mulai pada usia 50 tahun namun disertai faktor-faktor keturunan.

Penyakit Demensia, Penyakit Pikun yang Tidak Boleh Dianggap Remeh

Pada tahap terakhir perjalanan penyakit gangguan fungsi kognitif diperparah dengan munculnga gangguan psikiatri.

Misal gangguan emosi, depresi, atau kecemasan, bahkan disertai halusinasi dan gangguan tidur.

"Upaya yang dapat kita lakukan untuk mencegah terjadinya demensia ini adalah membiasakan diri hidup sehat sejak dini. Bisa dengan diet sehat, olahraga rutin, contoh dengan berjalN 30 menit di bawah sinar matahari pagi cukup 2-3 kali dalam seminggu, tidur teratur, stop merokok, dan bisa mendengarkan musik yang irama lambat dan suara yang lembut," ujarnya.

Selain itu juga bisa terus menerus secara teratur memelihara fungsi kognitif dengan terus belajar, membaca, menghitung, berbelanja, aktif bersosialisasi di masyarakat atau kelompok lansia, atau bisa juga dengan cara antar jemput cucu ke sekolah.

Jika dalam kearifan lokal budaya Bali bisa ikut dalam kelompok mekidung, menari, megamel, kelompok membuat banten, dan kegiatan di masyarakat yang dapat menstimulus otak.

Apabila ada yang mengalami gangguan memori sekecil apapun disarankan untuk segera berkonsultasi dengan dokter spesialis syaraf dengan keahlian menangani demensia.

(TRIBUNNEWSWIKI, NOVIANA WINDRI) 

Ikuti kami di
KOMENTAR
549 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved