Peringati World Mental Health, Jangan Jadikan Stres Karena Pandemi Untuk Konsumsi Obat Terlarang

Peringati World Mental Health, Jangan Jadikan Stres Karena Pandemi Untuk Konsumsi Obat Terlarang

nationaltoday.com
World Mental Health 

TRIBUNBALI.COM, DENPASAR - Dalam rangka memperingati hari kesehatan jiwa dunia (World Mental Health) 2020 setiap tanggal 10 Oktober, Rehab Napza RSJ Bali menggelar Bincang Asik Anti Napza (BISIKIN) melalui instagram live tentang ‘Kesehatan Jiwa Untuk Semua’, Jumat (9/11/2020).

Dokter kejiwaan RSJ Bali, dr. I Gde Yudhi Kurniawan, SpKJ dalam instagram live menjelaskan terdapat perubahan kesehatan jiwa di tengah pandemi Covid-19 dimana tidak sedikit orang merasa tertekan yang disebabkan banyak faktor.

Salah satunya adalah adanya pembatasan layanan kesehatan namun saat ini bisa dilakukan dengan telekonsultasi yang bisa menjangkau semua orang.

Begitupun bagi orang yang mengalami ketergantungan Napza.

“Orang yang mengalami ketergantungan zat itu termasuk ke dalam gangguan mental. Kecanduan zat sendiri secara langsung merubah otak secara mendasar otomatis fungsi otaknya juga ikut terganggu. Ada sirkuit kompulsif dalam otak yang terjadi aktivasi berlebihan di sana. Sehingga timbullah keinginan untuk melakukan tindakan yang merugikan dan berbahaya. Itu hampir serupa dengan gangguan mental,” jelasnya.

Baca juga: Peringati World Mental Health, Jangan Jadikan Stres Pandemi Covid-19 Konsumsi Obat Terlarang

Pada orang yang mengalami gangguan mental dikatakan dr. I Gde Yudhi Kurniawan, SpKJ sangat sering mengalami komorbid atau penyakit penyerta yang dialami selain dari penyakit utama.

Baik penyakit fisik ataupun gangguan mental lainnya.

dr. I Gde Yudhi Kurniawan, SpKJ mengungkapkan berdasarkan beberapa sumber hampir 50 persen orang dengan gangguan mental berat mempunyai kecenderungan penggunaan zat terlarang.

37 persen orang dengan penggunaan alkohol, dan 53 persen pengguna narkotika.

“Dilakukan skrining yang terintegrasi dan menyeluruh. Ketika orang dicurigai mengalami gangguan zat, maka perlu dilakukan suatu penilaian. Penilaian tidak hanya pada gangguan zat itu sendiri, tetapi terhadap banyak hal lainnya. Misal gangguan medis, riwayat social dan keluarga, atau riwayat gangguan mental,” tambahnya.

Halaman
12
Ikuti kami di
Penulis: Noviana Windri Rahmawati
Editor: Nur Afitria Cika Handayani
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved