Wiki Bali

Kamu Harus Tahu, Berikut Jenis-jenis Canang dan Fungsinya

Berdasarkan buku Himpunan Tetandingan Upakara Yadnya, Yayasan Dharma Acarya, canang berasal dari dua suku kata, yaitu ca dan nang.

Editor: Alfonsius
Dokumentasi Tribun Bali
Ilustrasi membuat canang 

Laporan wartawan Tribun Bali A.A Sri Kusniarti

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR –  Bagi umat Hindu Bali keberadaan canang sangat penting dalam sebuah upacara keagamaan.

Canang digunakan sebagai sarana dalam melaksanakan kegiatan peribadatan untuk mempersembahkan sesajen.

Canang biasanya dibuat sendiri menggunakan bahan berupa janur kelapa.

Agung Yuniana, setiap hari mebanten (membuat) canang di rumahnya.

Ia lakukan ini sebagai bagian dari adat budaya dan ajaran agama Hindu di Bali.

"Selain itu kewajiban mebanten canang ini juga untuk memohon perlindungan, dan mengucapkan terimakasih atas rahmat yang diberikan Ida Sang Hyang Widhi pada keluarga kami," jelasnya kepada Tribun Bali, Selasa (20/10/2020).

Canang telah menjadi bagian dari rutinitas, masyarakat Hindu Bali selama ini.

Namun tak banyak yang paham dan tahu, apa makna dan fungsi hadirnya canang dalam kehidupan sehari-sehari warga Pulau Dewata.

Berdasarkan buku Himpunan Tetandingan Upakara Yadnya, Yayasan Dharma Acarya, canang berasal dari dua suku kata, yaitu ca dan nang.

Yang berarti tujuan yang dimaksud (kamus Kawi-Bali). Dengan demikian, maksud dan tujuan canang adalah sebagai sarana bahasa Weda untuk memohon keindahan (Sundharam) kehadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Dijelaskan, canang dapat dikatakan sebagai penjabaran dari bahasa Weda melalui simbol-simbolya.

Di antaranya, canang yang dialas ceper adalah simbol Ardha Candra. Sedangkan canang yang dialasi sebuah tamas kecil sebagai simbol Windhu.

Di dalam ceper berisi sebuah porosan, adalah simbol silih asih.

Dalam arti umat Hindu harus didasari oleh hati yang welas asih ke hadapan Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Di dalam ceper juga berisi jajan, tebu dan pisang, adalah sebagai simbol Tedong Ongkara.

Menjadi perwujudan kekuatan Utpeti, Stiti dan Pralina dalam kehidupan alam semesta ini.

Di atas raka-raka tadi disusunkan sebuah sampian Urasari, adalah sebagai simbol Nadha.

Kemudian di atas sampian disusunkan bunga dengan rangkaian sebagai berikut.

Bunga berwarna putih disusun ke arah timur, sebagai simbol kekuatan Sang Hyang Iswara.

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
608 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved