De Gadjah 'Muda' Bandel dan Sering Bolos Sekolah, Lulus Kuliah dengan Predikat Cumlaude

De Gadjah menyebutkan hampir 80 persen orang yang mengenalnya tidak mengetahui nama aslinya.

TribunBali.com/Noviana Windri Rahmawati
De Gadjah menyebutkan hampir 80 persen orang yang mengenalnya tidak mengetahui nama aslinya. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - De Gadjah ditinggal ayahnya pergi untuk selama-lamanya ketika ia kelas 2 SMP.

Dirinya mengakui menjadi anak labil dan nakal.

De Gadjah menjadi sering berantem bukan karena mencari masalah, namun dikatakanya karena membela teman.

"Saat SMA tambah parah lagi. Kadang sekolah kadang tidak. Tetapi syukurnya nilai saya tidak pernah jelek. Suatu hari, guru mengadakan ujian lisan satu per satu dan nilai saya paling tinggi. Guru saya minta saya duduk di depan karena kalau di belakang takutnya terpengaruh," ungkap pria yang lahir di Denpasar, 12 Mei 1981.

De Gadjah adalah alumni dari SMP 7 Denpasar dan SMA 7 Denpasar.

Setelah lulus, ia melanjutkan kuliah di salah satu universitas di Malang namun orangtua bahkan temantemannya pesimis karena kenakalannya saat sekolah.

"Saya lulus 3,5 tahun dan IPK saya cumlaude. Hampir semua kawan saya tidak percaya. Saya harus berjuang waktu kuliah, karena yang bekerja jualan keliling cuma ibu saja. Jadi saya harus menyelesaikan kuliah dengan cepat. Itu yang menjadi motivasi saya waktu kuliah," tambahnya.

CERITA MASA KECIL

Made Muliawan Arya alias De Gadjah, Wakil Ketua DPRD Kota Denpasar menceritakan kisah hidupnya dulu.

De Gadjah merupakan anak paling bontot dari 9 bersaudara dan memiliki 4 orang ibu.

"Ayah saya tidak suka pacaran. Begitu beliau kenal wanita langsung dinikahi. Beliau tidak playboy. Agar sah secara agama. Dan saya anak dari ibu paling terakhir," ceritanya dalam segmen Tribun Bali 'Bli Ojan' diakses pada Kamis (5/11/2020).

Dikenal dengan nama De Gadjah bukan karena memiliki badan yang besar, namun saat balita ia seperti Patih Gajah Mada.

Yang membuat sang nenek memberikam nama panggilan 'Gajah Mada'.

"Yang memberi nama panggilan almarhum nenek. Seiring waktu, akhirnya panggilan 'Mada' hilang. Tapi, sampai sekarang ada beberapa orang tua yang sudah sepuh tetap manggil Mada," ujarnya.

Saat dirinya duduk di SMP, nama panggilan tersebut sempat hilang.

Namun, saat ia menempuh pendidikan di bangku SMA dan kembali bertemu dengan teman masa kecilnya, membuatnya dipanggil kembali dengan nama 'Gajah'.

"Sempat marah saat SMP dipanggil Gajah. Tapi pas saya SMA terima saja mungkin sudah jalannya. Ternyata nama itu membawa keberuntungan buat saya," ujar lelaki berbadan atletis tersebut.

De Gadjah menyebutkan hampir 80 persen orang yang mengenalnya tidak mengetahui nama aslinya.

Di keluarganya, De Gadjah sejak kecil telah diberikan pendidikan yang keras harus rajin berolahraga, harus mendapatkan ranking, dan tepat waktu.

"Sejak TK saya sudah dapat ranking 1,2, dan 3. Begitu ranking 4 saya langsung dijemur di bawah matahari. Memang keras didikan orangtua saya. Tetapi itu ada manfaatnya untuk saya," pungkasnya.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved