Faktor Resiko Kelahiran Prematur

Kondisi ini terjadi ketika kontraksi rahim memgakibatkan terbukanya leher rahim (serviks), sehingga membuat janin memasuki jalan lahir.

TribunBali.com/Noviana Windri Rahmawati
Webinar 'Kenali Penyebab Kelahiran Prematur & Pencegahannya' yang digelar oleh KECC 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kehamilan umumnya berlangsung selama 37-40 minggu.

Persalinan prematur tidak selalu diakhiri dengan kelahiran prematur.

Persalinan prematur dimulai sebelum kehamilan masuk usia 37 minggu.

Dokter spesialis kandungan, dr. Syifa Alkaf, Sp.OG menjelaskan terjadinya tanda-tanda persalinan sebelum waktunya membutuhkan pertolongan medis agar kelahiran prematur dapar dicegah.

Kondisi ini terjadi ketika kontraksi rahim memgakibatkan terbukanya leher rahim (serviks), sehingga membuat janin memasuki jalan lahir.

"Sekitar 3 dari 10 wanita yang mengalami kontraksi prematur dapat berhenti dengan sendirinya. Bila kontraksi tidak berhenti maka harus dilakukan tindakan untuk menunda persalinan, yang dilakukan mulai dari pemberian obat-obatan untuk mencegah kontraksi, sampai proses pengikatan mulit rahim yang mulai membuka," jelasnya dalam webinar 'Kenali Penyebab Kelahiran Prematur & Pencegahannya' yang digelar oleh KECC.

Baca juga: Kenali Penyebab Kelahiran Prematur dan Tanda-Tandanya

Faktor resiko calon ibu bisa mengalami persalinan prematur diantaranya.

Faktor gaya hidup yaitu berat badan sebelum hamil rendah, merokok selama kehamilan, dan defisiensi gizi mikro dan makro.

Faktor lainnya yaitu usia kurang dari 17 tahun dan lebih dari 35 tahun.

Disebabkan oleh komplikasi kehamilan diantaranya hamil lebih dari 1 bayi, pendarahan selama kehamilan, infeksi, hipertensi, diabetes, kelainan fungsi dan posisi ari-ari, ari-ari lepas belum pada waktunya, terlalu banyak cairan ketuban, dan ketuban pecah lebih awal.

"Beberapa disebabkan dari komplikasi kehamilannya sendiri. Misalnya calon ibu mengalami infeksi. Biasanya yang paling sering adalah infeksi saluran kemih, keputihan, atau sering anyang-anyangan," tambahnya.

Baca juga: Pemprov Bali Tunggu Vaksin Covid-19 dari Pemerintah Pusat

Faktor kesehatan ibu diantaranya penyakit yang bersifat kronis seperti penyakit ginjal atau jantung, penyakit infeksi seperti infeksi saluran kemih, infeksi cairan ketuban, dan infeksi vagina, kelainan bentuk rahim, ketidakmampuan serviks menutup selama masa kehamilan, stress, dan pernah mengalami kelahiran prematur sebelumnya.

Minggu terakhir masa kehamilan merupakan masa yang penting dalam pembentukan tahap akhir berbagai organ.

Termasuk otak dan paru-paru, serta proses peningkatan berat badan janin.

Oleh karena itu, bayi yang lahir prematur beresiko mengalami gangguan kesehatan karena kondisi organ tubuh yang belum sempurna, sehingga membutuhkan perawatan intensif.

Ikuti kami di
Penulis: Noviana Windri Rahmawati
Editor: Nur Afitria Cika Handayani
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved