40 Persen Pria Berisiko Alami Kemandulan di Zaman Modern

Infertilitas adalah kondisi dimana pasangan suami istru sudah menikah dan melakukan hubungan seksual secara harmonis selama setahun tanpa kontrasepsi.

Youtube PKRS Sanglah
Dokter spesialis kandungan RSUP Sanglah, dr. Anom Suardika, Sp. OG(K) 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Kehadiran buah hati dalam kehidupan adalah idaman bagi setiap pasangan yang telah menikah.

Kehamilan menjadi hal yang paling ditunggu bagi pasangan suami istri.

Namun, tidak semua pasangan yang baru menikah langsung diberikan momongan atau sulit hamil (infertilitas).

Dokter spesialis kandungan RSUP Sanglah, dr. Anom Suardika, Sp. OG(K) menjelaskan infertilitas adalah kondisi dimana pasangan suami istru sudah menikah dan melakukan hubungan seksual secara harmonis selama setahun tanpa kontrasepsi namun tidak kunjung berhasil mewujudkan kehamilan.

Jika sejak menikah, pasutri tidak mendapatkan kehamilan disebut infertilitas primer.

Namun, jika pasutri pernah memiliki anak kemudian berhubungan seksual tidak memakai kontrasepsi namun tidak kunjung mendapatkan kehamilan kembali disebut infertilitas sekunder.

"Pada tahun 1996 di Bali pernah dilakukan penelitian bahwa 4,6 pasangan usia subur itu didapatkan di Bali. Kalau di Indonesia pada tahun 2013 terdapat hampir 800 ribu pasangan yang mengalami infertilitas. Oleh sebab itu, sesuai UU klinik bayi tabung mulai dikembangkan," ujarnya dalam yputub PKRS Sanglah berjudul 'Solusi Cepat Hamil. Yuk Ikuti Bayi Tabung di RSUP Sanglah' yang diakses pada Senin (16/11/2020).

Penyebab infertilitas terdiri dari dua yaitu pihak lelaki dan perempuan.

Pada pihak lelaki penyebab umumnya adalah semen dan sperma yang diproduksi, jumlah sperma rendah, sperma abnormal, testis kepanasan, hingga faktor lingkungan.

Sedangkan pada perempuan penyebab umunya adalah faktor kandungan, faktor telor, dan faktor otak.

Selain itu juga karena pola hidup buruk, diet tidak sehat, kebiasaan merokok, kerusakan pada tuba falopi, hingga kanker tertentu.

"Melihat kondisi zaman sekarang resiko ketidaksuburan pada pria semakin tinggi. Dulu 35 persen, sekarang 40 persen. Sedangkan wanita 50 persen," pungkasnya.

Ikuti kami di
Penulis: Noviana Windri Rahmawati
Editor: Nur Afitria Cika Handayani
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved