Bangkit dari Lumpuh, Berkat Minyak Kutus-Kutus

Babe terus mendalami ilmu-ilmu membuat minyak hingga membuahkan hasil prototipe minyak kutus-kutus.

Tribun Bali
Bebe Kutus-Kutus dalam youtube Tribun Bali segmen Bli Ojan 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Babe Kutus-Kutus memeilih hijrah ke Bali dan membuka sebuah warung.

Ia mengalami kejadian hingga membuatnya lumpuh.

Segala usaha telah dilakukan untuk mengobati kakinya yang lumpuh, namun tak kunjung berhasil dan membuatnya putus asa.

Suaru hari ia melakukan meditasi dan saat meditasi ia menemukan jawaban ghaib dimana jawaban tersebut menyuruhnya membuat minyak.

"Akhirnya saya browsing dan ketemu teknik yang mudah. Sekaligus saya membaca relief kecil di Borobudur tentang membuat minyak. Jawabannya itu tidak lebih dari 50 meter dari diriku. Saya padukan apapun yang ada di kebun dan dapur. Yang menarik kita ketemu angka 49," paparnya.

Lantas, Babe mengecek lagi di internet penelitian Lipi tentang pohon berkhasiat.

Hingga percobaannya berhasil menjadikan minyak dan Babe mencoba mengobati dirinya sendiri.

3 bulan kemudian Babe sembuh dan sisa minyaknya dibagikan ke teman-temannya.

Babe terus mendalami ilmu-ilmu membuat minyak hingga membuahkan hasil prototipe minyak kutus-kutus.

Tak meninggalkan jiwa seninya, Babe Kutus-Kutus juga memiliki sebuah studio musik dan juga menciptakan banyak lagu.

Diberitakan sebelumnya, Servasius Bambang Pranoto atau lebih akrab dipanggil Babe ini merupakan orang yang membuat minyak kutus-kutus.

Siapa sangka, ia saat kecil sejatinya adalah seseorang yang dekat dengan dunia seni.

Pria kelahiran Klaten ini terinspirasi dari dua orong tokoh yaitu Jan Mintaraga, penulis komik remaja dan Tonny Koeswoyo.

Masing-masing tokoh tersebut mengajari Babe kecil menggambar dan menyanyi hingga membuatnya ingin berkesenian.

"Saat SMA saya masuk The Blito di Jogja. Dari situ menginspirasi saya tentang kehidupan dan kebebasan. Dan saya bikin majalah sekolah judulnya 'FREE' dan itu saya kerjakan sendiri. Tidak ada yang membantu hingga majalah itu berumur 15 tahun," ungkapnya.

Hal tersebut yang membuat ia meyakinkan dirinya sendiri bahwa membuat sesuatu yang besar tidak perlu modal besar.

Tetapi ide, keyakinan, dan dilaksanakan.

Pada umur 27 tahun, Babe telah memegang posisi manager di perusahaan Philips Electronic yang pada saat itu menduduki peringkat 5 di dunia.

"Salah satu klien saya itu Gramedia. Ada kisah lucu dengan pak Jacob. Saya diminta ketemu pak Jacob jam 5.30 pagi untuk minta tanda tangan orderan. Tetapi saay ketemu tidak ngurus order, tetapi kita bicara tentang rencananya untuk akusisi majalah Belanda," ujarnya.

Dari situ, karirnya berkembang sangat pesat hingga membuatnya merasa kedudukannya lebih tinggi dari umurnya.

Di saat umur 38 tahun pada 1993, Babe mengundurkan diri tanpa sebab meski dirinya telah memiliki karir yang sangat baik.

Lalu ia berkelana hingga akhirnya bertemu dengan Tino Saroengallo, seorang aktor, produser, dan penulis Indonesia.

Yang kemudian ia diajak membuat sinetron pertama di Indonesia berjudul 'Buana Jaka'.

"Saya melihat bisnis PH itu menarik. Saya bikin PH sendiri dan jadilah studio Inovasindo. Jadi kita bikin sinetron, iklan, broadcast, dan lainnya. Tahun 2003, akhirnya saya putuskan untuk menentramkan hati dan pergi dari Jakarta karena saat itu situasinya gak karuan. Akhirnya saya ke Bali," tambahnya.

Babe nekat hijrah ke Bali hanya dengan uang Rp 10 ribu hingga ia menetap dan membuka sebuah warung.

Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved