Profil Bupati Jembrana

Ditinggal Ayah Saat Umur Tiga Bulan, Tamba Jualan Es Hingga Pencari Batu Kali

Tamba dikenal sebagai politisi partai bintang mercy, dengan dua kali duduk sebagai anggota legislatif tingkat Provinsi Bali.

Penulis: Noviana Windri Rahmawati
Editor: Noviana Windri Rahmawati
Tribun Bali
I Nengah Tamba 

TRIBUN-BALI.COM, NEGARA- I Nengah Tamba lahir pada 22 Maret 1964.

Pria shio naga emas dengan zodiak Aries ini merupakan Bupati terpilih Kabupaten Jembrana, periode 2020-2024.

Tamba dikenal sebagai politisi partai bintang mercy, dengan dua kali duduk sebagai anggota legislatif tingkat Provinsi Bali.

Di sisi lain, ia merupakan pengusaha di bidang advesrtising sukses yang meniti karier dari bawah. Bisnisnya pun moncer, yang dimulai sekitar tahun 1998-an.

Pria asli Desa Kaliakah Kecamatan Negara itu pun sudah mengalami masa pahit sejak lahir.

Ditemui di kediamannya, di Desa Kaliakah, Tamba mengurai bahwa segala karier politik dan bisnisnya, tidak ia dapat dengan mudah. Apalagi, sejak lahir sekitar usia tiga bulan, sosok ayah tidak lagi ia dapatkan. Ayah atau bapaknya meninggal dunia. Kemudian di usia satu tahun, ibunya menikah lagi. Terpaksa ia pun harus tinggal dengan bibinya. Yang akhirnya memberikan penghidupan berupa materi dan perhatian.

Anak dari Ketut Muna dan Nengah Denri ini pun sejak kecil sudah mandiri. Ia berjualan es untuk dijual ke temannya di sekolah SD-nya. Di SD 2 Kaliakah. Bahkan, kisah menarik ia utarakan, saat dagangannya belum ada pembeli ia harus membeli sendiri dan menerima uang dirinya sendiri. Sembari ia berakting menjadi pembeli dan penjualan dalam satu waktu tersebut.

“Jadi saya sejak kecil jualan es, mencari batu kali. Ada kisah saya juga ingin membeli es saya sendiri dan saya sekaligus jadi penjual,” ceritanya dengan terkekeh mengenang masa kecilnya sebagai penjual es Rabu 27 Januari 2021 saat ditemui di rumahnya.

Tamba mengaku, menjadi pencari batu kali dan penjual es yang dilakoninya itulah, kemudian naluri bisnisnya mulai menajam. Meskipun, dari sisi ekonomi hanya sekedar untuk makan dan bekal sekolah ia tercukupi. Bibinya sangat perhatian kepadanya. Hanya saja ia tidak mau terlalu membebani bibinya. Pada umumnya, anak yang tidak mendapat perhatian dari kedua orangtuanya, maka akan menjadi berandalan. Berbeda dengannya, yang kemudian memilih otodidak untuk belajar segala hal. Terutama bisnis.

Insting bisnis dan merubah pola pikirnya ini tumbuh dan terbentuk, ketika masa SMP ada anak Jakarta yang menjalankan proyek jalan Denpasar Gilimanuk atau sekitar tahun 1980-an. Dari cerita dan petuah itulah, ia pun bertekad tidak ingin larut dalam kesedihan meskipun sudah tidak memiliki orangtua asli. Hanya bibi saja.

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved