Sejarah Orang-Orang Bugis di Kampung Bugis Tuban Badung Bali

Setidaknya kurang dari 100 KK yang masih mendiami Kampung Bugis Tuban.

Tribun Bali/Harus Ar Rasyid
Foto Peresmian Masjid Agung Asasuttaqwa sekitar tahun 1990an 

TRIBUN-BALI.COM, MANGUPURA - "Inilah satu-satunya dokumentasi mengenai peresmian masjid ini" Ujar Muhammad Syafaruddin, pengurus masjid Asasuttaqwa sembari menunjukan foto peresmian masjid yang diambil kira-kira pada tahun 1990 an.

Masjid Asasuttaqwa merupakan salah satu masjid yang berada di kawasan kuta.

Masjid ini lokasinya juga berdekatan dengan Bandara I Gusti Ngurah Rai yang tak jarang bunyi pesawat yang baru saja lepas landas atau mendarat terdengar dari masjid ini.

Muhammad Syafaruddin, pengurus masjid bagian dakwah yang ditemui Masjid Asasuttaqwa pada Sabtu 24 April 2021 mengatakan bahwa ia masih menempuh pendidikan Sekolah Menengah Pertama (SMP) ketika masjid ini pertama kali dipugar.

Ia mengaku ikut bergotong royong membangun masjid ini.

"Saya waktu itu masih SMP, saya ingat, saya dulu ikut bantu-bantu disini" kenangnya.

Abdul Rahman, Bendahara Masjid yang turut serta dalam obrolan tersebut juga menambahkan, "Dulunya para orang tua membangun masjid ini dari sisa-sisa material pembangunan bandara sana, dulunya ini hanya mushola kecil, tahun berapa pertama kali? saya kurang ingat pasti, karena saya juga mendapatkan cerita dari orang-orang tua terdahulu" imbuhnya.

Beralamat di Jl. Waringin, Tuban, Kuta, Kabupaten Badung, Bali, masjid ini merupakan masjid yang didirikan oleh orang-orang Bugis, di Kampung Bugis Tuban, Kuta.

Ditanya perihal, sejarah bagaimana orang-orang Bugis bisa mendiami Kampung Bugis Tuban, keduanya sama-sama mengaku kurang tahu pasti.

"Setahu saya, dengar-dengar dari cerita orang tua, tanah ini memang pemberian dari Raja Badung, imbalan karena membantu Raja ketika ada peperangan, ya itu tapi, kami tidak bisa memberikan bukti konfirmasi mengenai hal tersebut karena kurangnya catatan tentang sejarah itu," tutur Abdul Rahman.

Menambahkan cerita dari Abdul Rahman, Muhammad Syafaruddin menceritakan terdapat makam di Pemakaman Kampung Bugis yang berada di Kuburan/Setra Kampung Bugis Tuban yang beralamat di Jl. By Pass Ngurah Rai, Tuban, Kuta, Kabupaten Badung.

"Ada makam yang tahunnya bertulis 1300an," ujarnya.

Namun, kurangnya buku-buku sejarah mengenai Kampung Bugis Tuban ini membuatnya kurang paham bagaimana orang-orang Bugis bisa sampai menetap di wilayah Bali.

"Sama seperti yang di Serangan atau Suwung, Orang Bugis di Kampung Bugis Tuban ini merapat kesini karena disini juga dulu ada Teluk, itu yang Patung Ngurah Rai, teluk dulu itu, bahkan sampai di sebelah timur masjid ini juga masih laut bahkan kalau air laut naik, saya bisa mancing dari rumah saya" jelasnya.

Lebih lanjut, Muhammad Syafaruddin juga menceritakan saat ia kecil, dirinya masih melihat beberapa rumah adat Bugis yang masih tersisa.

Perubahan zaman dan datangnya pendatang ke wilayah kampung Bugis Tuban ini membuat komunitas orang-orang Bugis semakin sedikit.

Setidaknya kurang dari 100 KK yang masih mendiami Kampung Bugis Tuban.

"Ya, karena banyak pendatang dan menikah juga dengan orang Jawa misalnya, membuat generasi sekarang mulai kurang paham akan bahasa dan sejarah mereka. Kalau saya dengan Ibu saya, saya masih pakai bahasa Bugis untuk berbicara" tutupnya.

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved