Melambangkan Hal yang Suci, Berikut Ini Makna Turus Lumbung Dalam Hindu di Bali

Turus lumbung mungkin tak banyak diketahui kalangan muda di Bali. Namun, turus lumbung menjadi sesuatu yang penting karena melambangkan hal yang suci

Editor: Karsiani Putri
Istimewa
Turus lumbung mungkin tak banyak diketahui kalangan muda di Bali. Namun, turus lumbung menjadi sesuatu yang penting karena melambangkan hal yang suci. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Turus lumbung mungkin tak banyak diketahui kalangan muda di Bali.

Namun, turus lumbung menjadi sesuatu yang penting karena melambangkan hal yang suci.

Turus lumbung biasanya terbuat dari turus pohon dapdap sebagai tiang penopang.

Kemudian dibuatkan ruangan dengan balai-balai dari bambu untuk meletakkan tempat sajian atau sesajen

Turus dapdap merupakan tameng atau perisai, biasanya digunakan sebagai alat untuk melindungi diri.

Sedangkan lumbung berarti tempat untuk menyimpan padi sebagai sumber penghidupan.

Bangunan turus lumbung biasanya bersifat sementara, sebab nantinya akan diganti dengan bangunan yang lebih permanen baik untuk sanggah dan lain sebagainya. 

Namun, sebelum menjadi bangunan permanen, maka turus lumbunglah yang menjadi lambang dari sebuah palinggih atau tempat suci.

Turus lumbung memiliki bangunan rong tunggal sebagai tempat menaruh sesajen.

Bangunan inilah yang nantinya disebut kamulan atau sanggah kamulan.

Turus lumbung masih banyak digunakan di pelosok desa di Bali, khususnya bagi masyarakat yang belum memiliki sanggah atau pamerajan. 

Namun, seiring perkembangan zaman, dan adat budaya kian maju, dalam perkembangannya rong tunggal itu berkembang menjadi rong kalih (dua).

 Lalu kini berkembang menjadi rong tiga, sebagai tempat memuja roh leluhur yang telah disucikan oleh umat Hindu Bali.

Rong tiga ini disesuaikan dengan konsep Tri Murti, yakni Brahma, Wisnu dan Siwa (Iswara) sebagai perwujudan manifestasi Ida Sang Hyang Widhi Wasa. 

Sehingga selain memuja roh leluhur yang telah suci, palinggih rong tiga juga untuk memuja Tri Murti.

Sanggah kamulan atau rong tiga biasanya dipuja oleh suatu kelompok keluarga.

Kemudian apabila keluarga menjadi lebih besar, maka bangunan palinggih pun akan dilengkapi di sanggah atau pamerajannya.

Masing-masing palinggih, akan disejajarkan sesuai dengan tempatnya sesuai asta kosala-kosali sebuah sanggah atau merajan. 

Setelah itu, palinggih akan diletakkan sesuai tempat dan fungsinya, bersamaan dengan bangunan palinggih sanggah kamulan.

Setelah itu barulah disebut sanggah pamerajan.

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
785 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved