Maithuna, Ajaran Tantra Bairawa Wujud Cinta dan Kasih Sayang

Maithuna adalah bagian dari Panca Makara atau lima hal yang berhubungan dengan ajaran tantrisme.

Editor: Karsiani Putri
Istimewa
Simbol konsep maithuna dalam Panca Makara sebagai bagian ajaran Tantra Bairawa 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Maithuna adalah bagian dari Panca Makara atau lima hal yang berhubungan dengan ajaran tantrisme.

Sementara, kata tantrisme sendiri berasal dari kata tantra (bahasa Sansekerta) yang merupakan istilah pemujaan sakti (esoteris).

Tantra berkaitan dengan praktek spiritual, serta bentuk ritual ibadah yang bertujuan membebaskan dari kebodohan, berkaitan pula dengan kelahiran kembali, alam semesta, yang diatur oleh Siwa.

Bagian Pancamakara diantaranya madya atau alkohol, mamsa atau daging, matsya atau ikan, mudra atau gerakan, dan maithuna atau seksual.

Jero Rudra Agni menjelaskan, salah satunya, yakni tentang maithuna. 

Praktisi tantra ini menekankan, bahwa maithuna jangan ditelanjangi dengan artian bebas dalam hubungan seksual.

Sebab tujuan maithuna adalah hubungan manusia dengan dewa dan Tuhan.

Serta upaya mencapai moksa.

Sehingga bukan hanya berkaitan dengan kama saja, walau kama atau hubungan seksual memang menjadi bagian di dalamnya. 

"Dalam ajaran Bairawa, dijelaskan bahwa Panca Makara puja adalah merupakan dasar dalam ajaran tersebut. Untuk itu, dalam menekuni Tantra Bairawa, diperlukan pondasi pengetahuan yang kuat karena memang sulit memahaminya," jelasnya kepada Tribun Bali, Kamis 26 Agustus 2021. 

Selain itu, diperlukan pula kesiapan mental spiritual yang memadai dalam mengulas sebuah ajaran.

"Maka dari itu banyak yang menganggap ajaran ini sesat, dan lainnya. Padahal yang komentar mungkin belum sampai pengertiannya pada tahap pengetahuan itu," jelasnya. 

Bairawa, lanjut ia, adalah ajaran tantrik yang berdasarkan atas Panca Ma atau Panca Makara puja.

Salah satunya adalah maithuna itu, yang artinya seks atau senggama sepuas-puasnya.

"Namun jangan disalahartikan dengan seks sepuasnya dengan siapa saja. Itu pemahaman yang keliru," tegasnya. 

Sebab apa yang ada di dalam yantra atau simbol-simbol pada maithuna harus dipahami dari sisi spiritual holistik.

Agar tidak terjebak pada pemahaman yang salah.

"Bagi penganut Bairwa asli Nusantara, maithuna adalah awal penciptaan melalui senggama aksara, yaitu aksara 'ANG' yang mewakili aspek ibu pertiwi atau feminim dengan aksara 'AH' dalam aspek bapa akasa atau maskulin," sebutnya.

Kemudian dari aspek ibu dan bapak inilah, terjadi penciptaan dari Sang Pencipta.

Sehingga lahirlah aksara 'Ongkara Pranawa' sebagai awal dan akhir alam semesta.

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
802 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved