Mesangih Dengan Orang Ganjil, Ini Penjelasan Mengenai Pantangan Potong Gigi di Bali

Mepandes, mesangih, atau potong gigi adalah salah satu kewajiban umat Hindu di Bali. Khususnya pula adalah salah satu kewajiban orang tua pada anaknya

Editor: Karsiani Putri
Istimewa
Prosesi mesangih dalam Hindu Bali sebagai upaya menghilangkan Sad Ripu di dalam diri manusia 

Kemudian tidak boleh orang hamil mesangih, serta pasangan suami istri potong gigi bersama di bale atau tempat  yang sama.

"Tidak ngidem atau menutup mata ini, karena posisinya orang mesangih adalah seperti orang mati, sedangkan ia bukan mati," tegas ida.

Sehingga diminta agar jangan ngidem serta supaya tetap jagra atau membuka mata.

"Lalu orang hamil tidak boleh potong gigi. Seperti telah disebutkan potong gigi sering dikonotasikan dengan upacara sakral dan magis. Bagi orang yang hamil, biasanya pikirannya goyah dan kehamilannya sangat rentan. Kalau orang hamil biasanya psikologinya  juga harus dijaga. Apabila orang hamil merasa was-was, dan merasa ketakutan lebih-lebih selalu dihubungkan dengan hal-hal yang magis, tentu itu tidak baik," tegas beliau. 

Apabila si wanita yang sedang hamil merasa shock, takut, tertekan maka sangat rentan akan terjadi keguguran atau membahayakan psikis ibu dan anak di dalam kandungannya. 

Kemudian suami istri, tidak diperkenankan melaksanakan potong gigi bersama di tempat yang sama, diduga akan sering menimbulkan polemik.

"Hal ini disebabkan bahwa potong gigi adalah kewajiban orang tua kandungnya. Apabila dia melakukan potong gigi di rumah si pria maka orang tua si perempuan akan merasa ada yang mencemooh," kata beliau. 

Semisal 'kok hutangnya kepada anaknya dilimpahkan pada orang lain' dan sebagainya.

Secara psikis, tentunya lambat laun hal ini kurang baik bagi pasangan tersebut.

Karena bisa memicu pertengkaran di dalam rumah tangga.

Sehingga disarankan agar setiap orang tua, berupaya dan berusaha mengupacarai potong gigi putra putrinya sebelum menikah. 

Kemudian apabila ada orang meninggal, dan belum mesangih maka tidak perlu dilakukan upacara mesangih.

Karena hal tersebut merupakan larangan dan pantangan dalam agama Hindu. Jika dipaksa, itu sama dengan disebut ngeludang wangke.

Atau membunuh dan menyiksa orang yang telah tiada. 

Tentunya hal ini sangat tidak elok dilakukan.

"Namun apabila orang tua yang meninggal bersikukuh untuk supaya anaknya mesangih, sebagai pembayaran utang terakhirnya orang tua pada anaknya, maka boleh dilakukan mesangih tetapi cara dan konsepnya sedikit berubah," ujar ida. 

Baca juga: Bangkitkan Pasraman Hindu, Ditjen Bimas Hindu Anggarkan Rp15,2 Miliar

Yakni dengan cara orang yang meninggal saat melakukan proses nyiramang layon pada tahapan bersih hidup (sebelum tahapan bersih mati).

Yaitu pada saat mayat berpakaian seperti orang masih hidup, maka saat itu prosesi mesangih bisa dilakukan. 

Tetapi yang menjadi sangging atau yang nyangihin adalah orang tua orang yang meninggal tersebut.

Tentunya dengan beberapa syarat, diantaranya untuk nyangihin, maka kikir yang dipakai nyangihin yang biasanya dibuat dari besi harus diganti dengan pusuh bunga tunjung.

Baca juga: Bupati Nengah Tamba Minta Tenun Endek Loloan Untuk Menonjolkan Ciri Khas Melayu

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved