Tingkat Konsumsi Bahan Bakar Premium Masih Tinggi, Nelayan Diminta Beralih ke Pertalite

Tingkat konsumsi bahan bakar jenis premium di Klungkung relatif masih tinggi.

Editor: Karsiani Putri
Eka Mita Suputra
Sosialisasi penggunaan pertalite ke para nelayan di Klungkung, Bali pada Rabu 15 September 2021 

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA- Tingkat konsumsi bahan bakar jenis premium di Klungkung relatif masih tinggi.

Menyikapi hal ini, Pertamina bersama dengan Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan melakukan sosialisasi penggunaan bahan bakar pertalite ke para nelayan.

Sosialisasi penggunaan pertalite ke para nelayan itu, serangkaian program Langit Biru untuk pengurangan polusi udara di Bali dengan mengedukasi pengguna premium untuk dapat beralih menggunakan pertalite yang lebih ramah lingkungan.

"Hari ini kami ingin mengedukasi para nelayan di Klungkung untuk dapat beralih menggunakan pertalite yang lebih ramah lingkungan jika dibandingkan dengan premium," ungkap Sales branch manager V Pertamina, Arnaldo Andika, Rabu 15 September 2021.

Berdasarkan data, konsumsi bahan bakar jenis premium di Klungkung peling tinggi berdasarkan realisasi data bulanan Pertamina tahun 2021.

Tingkat konsumsi premium di Klungkung mencapai 1.019 kilo liter.

Sementara kabupaten lainnya seperti Karangasem hanya 261 kilo liter, Gianyar 157 kilo liter, Badung 184 kilo liter, Buleleng 195 kilo liter, Bangli 206 kilo liter, Tabanan 267 kilo liter, Jembrana 278 kilo liter dan Kota Denpasar 328 kilo liter.

Secara persentase, penggunaan premium di Klungkung masih sebesar 36,6 persen. 

"Kami akan berikan pengalaman para nelayan untuk dapat mencoba penggunaan pertalite dalam program Langit Biru. Nanti para nelayan di Klungkung bisa mendapatkan pertalite harga premium ini di SPBN (stasiun pengisian bahan bakar nelayan) di Kusamba," jelasnya.

Program Langit Biru ini akan dimulai tanggal 3 Oktober mendatang, dan para nelayan di Klungkung dapat membeli pertalite dengan harga premium, yakni Rp6.450 ribu.

Harga disesuaikan secara bertahap, dan nelayan akan mendapatkan harga pertalite normal pada 2 Januari 2022.

Baca juga: Panorama Tukad Tista Klungkung yang Masih Tertutup Rimba

Baca juga: Tunggakan Pajak Kendaraan di Karangasem Capai Rp7.8 Milliar

"Apalagi mesin nelayan saat ini sudah dianjurkan menggunakan bahan bakar dengan angka oktan yang lebih tinggi. Sehinga mesin akan lebih awet dan tentu lebih irit juga," ungkapnya.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan Klungkung Dewa Ketut Sueta Negara menjelaskan, sosialisasi program Langit Biru ini juga akan dilaksanakan ke para nelayan di Kecamatan Nusa Penida.

Kamis 16 September 2021  sosialisasi dilaksanakan di Kantor Desa Lembongan dan Jumat 17 September 2021 dilaksanakan di Kantor Desa Suana, Nusa Penida.

Baca juga: Mengenal Sosok Seniman Lukis I Ketut Mayun, Belajar Otodidak Hingga Sabet Juara di India dan Jepang

"Program ini juga untuk mendukung Peraturan Gubernur Bali Nomor 45 Tahun 2019 tentang Bali Energi Bersih," jelasnya.

Sementara beberapa nelayan berharap agar harga pertalite dapat disubsidi, jika mereka diminta beralih menggunakan bahan bakar dengan angka oktan 90 tersebut.

"Kalau kami beralih menggunakan pertalite, tentu pengeluaran nelayan akan lebih tinggi. Sementara hasil tangkapan disini minim karena hanya nelayan kacil. Jika ada kebijakan untuk beralih ke pertalite, kami harap bisa ada subsidi khusus ke nelayan kecil sehingga harganya bisa selalu seharga premium," ungkap seorang nelayan, Ketut Artawan. (*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
815 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved