Tradisi Petik Laut Diminta Untuk Masuk Kalender Pariwisata, Wagub Cok Ace : Akan Mengkaji

Jajaran Anggota DPRD Bali terus melakukan kegiatan serap aspirasi dalam masa resesnya.

Editor: Karsiani Putri
Ragil Armando
Anggota Komisi II DPRD Bali, Kade Darmasusila dengan mendatangi komunitas nelayan di Desa Air Kuning, Kecamatan Jembrana, Kabupaten Jembrana pada Rabu 15 September 2021 kemarin. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR – Jajaran Anggota DPRD Bali terus melakukan kegiatan serap aspirasi dalam masa resesnya.

Reses kali ini telah berlangsung sejak tanggal 14 September 2021 dan berakhir pada 22 September 2021 mendatang.

Beragam aspirasi disampaikan oleh masyarakat kepada para anggota dewan yang mewakili mereka.

Seperti yang dilakukan oleh Anggota Komisi II DPRD Bali, Kade Darmasusila dengan mendatangi komunitas nelayan di Desa Air Kuning, Kecamatan Jembrana, Kabupaten Jembrana pada Rabu 15 September 2021 kemarin.

Saat dikonfirmasi, ia mengaku bahwa kedatangannya di daerah tersebut selain menjaring aspirasi juga menghadiri tradisi Petik Laut yang dilakukan oleh masyarakat setempat. 

“Itu kegiatan kita temu kangen dengan masyarakat disana, sekalian merayakan Pethik Laut. Karena kemarin situasi pandemi mereka tidak berani rame-rame, tapi seremonial dan doa tetap berjalan,” katanya Kamis 16 September 2021. 

Baca juga: Mesangih Dengan Orang Ganjil, Ini Penjelasan Mengenai Pantangan Potong Gigi di Bali

Baca juga: Mengenal Sosok Seniman Lukis I Ketut Mayun, Belajar Otodidak Hingga Sabet Juara di India dan Jepang

Dalam kegiatan tersebut, Politikus Gerindra itu mengaku para nelayan menitipkan beberapa aspirasi kepada dirinya. 

Salah satunya adalah berharap dijadikannya tradisi Petik Laut sebagai bagian dari kalender festival pariwisata Bali. 

Pasalnya, menurut dia tradisi tersebut diharapkan mampu menjadi daya tarik baru bagi destinasi wisata di wilayah Bali Barat.

Pada tradisi Petik Laut ini, menurutnya juga berpeluang menjadi atraksi wisata lomba perahu jukung tradisional yang bakal menarik wisatawan.

“Dari nelayan aspirasinya mereka setiap tahun melaksanakan kegiatan Petik Laut, ini sudah turun temurun dari dulu, sebenarnya ini mereka berpeluang menjadi atraksi wisata berupa atraksi lomba perahu jukung tradisional,” paparnya.

Untuk diketahui, tradisi ini digelar sebagai rasa syukur atas limpahan hasil laut para nelayan selama setahun.

Petik Laut adalah warisan leluhur dan merupakan bentuk sedekah masyarakat terhadap laut yang selama satu tahun menjadi tempat mengais rezeki.

Setiap tahun setiap bulan Muharram dalan penanggalan Islam para nelayan setempat akan melaksanakan acara adat Petik Laut.

Sama dengan perayaan tradisi petik laut lainnya, mereka melarung sesaji ke tengah laut menggunakan perahu.

Sesaji berupa kepala sapi, dan sejumlah hasil bumi dan laut diangkut menggunakan perahu mini, serta dilarung nelayan.

Desa Air Kuning sendiri merupakan salah satu kampung Muslim tua yang sudah ada sejak abad ke-16 Masehi.

Didaerah ini sendiri, banyak didiami oleh masyarakat Bali keturunan Bugis Wajo dan Melayu Pontianak.

Ia mencontohkan, bahwa Pemprov Jawa Timur sendiri berhasil menjadikan tradisi Petik Laut menjadi event wisata yang cukup menarik minat wisatawan.

Diharapkannya, Pemerintah Provinsi Bali mampu menjadikan tradisi ini sebagai bagian dari kalender pariwisata Bali sehingga mampu meningkatkan pendapatan masyarakat dan PAD Provinsi Bali.

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved