Penyedia Jasa Penyeberangan di Bangli Banyak yang Beralih Profesi Akibat Sepinya Wisatawan

Dampak Pandemi Covid-19 dinilai menjadi salah satu penyebab anjloknya pariwisata di Bangli.

Editor: Karsiani Putri
Fredey Mercury
Kepala Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) I Nengah Dester 

TRIBUN-BALI.COM, BANGLI - Dampak Pandemi Covid-19 dinilai menjadi salah satu penyebab anjloknya pariwisata di Bangli.

Kendati pemerintah telah membuka jalur penerbangan bagi wisatawan mancanegara (wisman), nyatanya hal tersebut belum memberikan efek bagi masyarakat khususnya para penyedia jasa penyeberangan.

Kepala Gabungan Pengusaha Nasional Angkutan Sungai, Danau, dan Penyeberangan (Gapasdap) I Nengah Dester membenarkan hal tersebut.

Kata dia, merosotnya tingkat kunjungan wisatawan pengguna jasa penyeberangan sudah terjadi sejak memasuki masa pandemi Covid-19.

Belum lagi, penyeberangan sempat ditutup selama tiga bulan.

Yakni sejak bulan Juli hingga September.

"Kalau dulu satu harinya bisa 10 sampai 15 speedboat yang nyeberang. Sekarang satu minggu paling banyak lima speedboat. Tak jarang satu hari tidak ada penyeberangan," keluhnya belum lama ini.

Dester tak menampik, anjloknya jumlah wisatawan ini berbanding lurus dengan penurunan Pendapatan Asli Daerah (PAD) Bangli.

Penurunan PAD bahkan mencapai 80 persen.

"Sebelum Covid ditarget Rp50 juta. Tapi, dalam setahun realisasinya bisa mencapai Rp75 juta. Tapi pasca Covid, realisasi per tahun hanya Rp10 juta," sebutnya.

Pria asal Desa Kedisan, Kintamani itu mengatakan, walaupun pintu masuk pariwisata bagi pelancong luar negeri telah dibuka tanggal 14 Oktober, namun hingga kini belum ada wisman yang datang dan menggunakan jasa penyeberangan.

Kebanyakan adalah wisatawan domestik.

Belum juga kembali pulih, dua hari pasca dibukanya penerbangan internasional, justru terjadi musibah gempa bumi, dan berbuntut pada kejadian tanah longsor di tiga desa.

"Sejak bencana kami tidak menutup layanan jasa penyeberangan. Tapi, tidak ada yang menggunakan jasa kami. Mungkin wisatawan takut," katanya.

Dampak sepinya penggunaan jalur penyebarangan Danau Batur, imbuh Dester, akhirnya memaksa para pemilik speedboat yang terhimpun dalam Koperasi Pariwisata Danau Batur untuk beralih pekerjaan.

Dester menyebut, dari 80 anggota yang berasal dari Desa Kedisan, Abang, dan Terunyan, kini hanya tersisa 20 orang saja.

Baca juga: Tradisi Nyepi Segara Digelar Besok, Penyebrangan Menuju Nusa Penida Akan Ditutup Sementara

"Sisanya beralih jadi petani, jadi tukang bangunan, hingga bisnis jual ikan. Kalau di Batur yang lagi ngetren bisnis jual ikan itu," tandasnya. 

(*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved