Petani Garam Tradisional Diresahkan dengan Beredarnya Garam Oplosan

Para petani garam tradisional diresahkan dengan maraknya garam oplosan yang beredar di pasaran.

Editor: Karsiani Putri
Eka Mita Suputra
Petani garam di Pantai Karnagdadi, Kusamba sedang menyiram ladang penggaraman mereka, Rabu, 3 November 2021. Selama ini mereka mengeluhkan beredarnya garam oplosan di Klungkung. 

TRIBUN-BALI.COM, SEMARAPURA- Para petani garam tradisional diresahkan dengan maraknya garam oplosan yang beredar di pasaran.

Terlebih garam oplosan itu kerap dijual dengan nama Garam Kusamba.

Ketua Kelompok Petani Garam Tradisional Sarining Segara Desa Kusamba, Wayan Rena (50) sedang berteduh di sebuah gubuk di Pesisir Pantai Kusamba, Dawan, Klungkung, Rabu siang 3 November 2021. 

Ia tampak serius memperhatikan ladang penggaramannya, sembari menunjukan garam yang ia produksi.

Garam itu tampak lembut dan berwana putih bersih, dan selama ini menjadi komoditi unggulan desa setempat dengan nama Garam Kusamba.

Hanya saja Rena dan pembuat garam lainnya di Pesisir Karangdadi mengaku resah dengan maraknya garam oplosan di pasaran.

Garam oplosan itu bahan bakunya didatangkan dari luar Bali, berupa garam kasar lalu diolah kembali dan dijual dengan nama Garam Kusamba.

"Bahkan banyak yang jual garam oplosan itu justru dari Desa Kusamba. Garam oplosan itu merupakan garam kasar yang diolah kembali, sehingga bisa menyerupai Garam Kusamba," ujar Wayan Rena.

Ia menjelaskan, secara bentuk garam oplosan itu bisa sangat menyerupai Garam Kusamba, seperti warna yang putih bersih dan tekstur yang lembut.

Perbedaannya ada pada cita rasa, yang mana Garam Kusamba memiliki rasa yang asin dan gurih.

Sementara garam oplosan rasanya asin dan mengarah ke pahit.

"Tapi sering kali pembeli tertipu karena garam oplosan ini rupanya mampu sangat menyerupai Garam Kusamba. Pembeli biasanya tergiur membeli karena mengira garam oplosan itu Garam Kusamba dengan harga yang lebih murah. Bahkan saat ini Garam Kusamba yang banyak beredar di Klungkung itu garam oplosan," keluh Rena.

Jika Garam Kusamba dengan kualitas bagus dihargai Rp25 ribu per Kilogram, garam oplosan bisa dijual dengan selisih harga Rp3 ribu lebih murah.

Sehingga dirasa sangat merugikan para petani garam tradisional di Desa Kusamba.

"Selain konsumen, para petani garam Kusamba disini juga merasa dirugikan dengan garam oplosan ini. Bahkan ada orang yang membeli Garam Kusamba beberapa kilogram, lalu dicampur dengan garam opolosan untuk mengkelabui pembeli," terangnya.

Ia pun berharap pemerintah bisa melindungi produk Garam Kusamba, sehingga petani garam lokal bisa terus bergairah untuk memproduksi garam.

Apalagi Garam Kusamba selama ini sudah menjadi komoditi unggulan dan sumber penghidupan warga setempat, namun pembuatnya semakin berkurang.

Baca juga: Kenali Bahaya Penyakit Leptospirosis, Penyakit yang Rawan Menyerang Ketika Musim Hujan

Sementara itu rombongan Gubernur Bali I Wayan Koster, didampingi Bupati Klungkung I Nyoman Suwirta, sempat menyambangi para pembuat garam tradisional di Pesisir Pantai Karangdadi, Desa Kusamba, Rabu 3 November 2021.

Koster dihadapan para petani garam memastikan izin produk Garam Kusamba akan keluar.

"Izinnya nanti pasti keluar karena ini memang sudah layak. Nanti pasarkan Garam Kamasan ini ke pasar modern dengan kemasan yang menarik. Nanti kawasan Pantai Karangdadi ini juga agar ditata untuk jadi tempat wisata," ungkap Koster. 

(*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved