Disebut-sebut Bakal Gantikan Gas Elpiji, Apa Itu DME? 

Dilansir dari Kompas.com pada Selasa, 16 November 2021, Pemerintah berencana mengganti konsumsi gas masyarakat

Editor: Karsiani Putri
Istimewa/ Kompas
Contoh tabung DME yang dipamerkan oleh PT Pertamina, PT Bukit Asam, dan Air Products and Chemical Inc. 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR- Dilansir dari Kompas.com pada Selasa, 16 November 2021, Pemerintah berencana mengganti konsumsi gas masyarakat dari Liquified Petroleum Gas (Elpiji) menjadi Dimethyl Ether ( DME).

Dikutip dari Kontan, 24 November 2020, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif menyebut akan ada konversi penggunaan Elpiji menjadi produk hilirisasi batubara berupa Dimethyl Ether ( DME).

Arifin menargetkan, penggantian konsumsi dari LPG ke DME akan berlangsung pada tahun 2035.

Sementara itu, Direktur Pembinaan Pengusahaan Batubara Kementerian ESDM, Sujatmiko mengatakan, gasifikasi batubara untuk menghasilkan DME dilaksanakan karena kebutuhan Elpiji yang semakin meningkat.

Baca juga: Sebanyak 90 Pedagang Akan Digeser Ke Selatan dan Timur Pasar Kidul Bangli

Saat ini, sebanyak 75 persen hingga 78 persendari konsumsi Elpiji dalam negeri masih dipenuhi dari impor.

"Produk hilirisasi batubara berupa DME dapat mensubstitusi LPG sedangkan methanol untuk menggantikan bahan baku industri kimia," kata Sujatmiko dalam acara Kompas Talk bertajuk Hilirisasi Batubara untuk Pemulihan Ekonomi secara virtual, Rabu, 1 September 2021. 

Apa itu DME?

DME adalah hasil olahan atau pemrosesan sedemikian rupa dari batubara berkalori rendah.

DME memiliki sifat layaknya Elpiji meski panas yang dihasilkan sedikit lebih rendah dari elpiji.

Tujuan proyek ini mengurangi ketergantungan pada impor elpiji.

Dari total konsumsi elpiji nasional, sekitar 70 persen diperoleh dari impor.

Melansir indonesiagoid, program gasifikasi batubara atau DME dapat meningkatkan nilai tambah dari batubara.

Pembentukan menjadi produk batu bara menjadi gas atau DME merupakan proses konversi batu bara menjadi produk gas.

Sebenarnya, proses gasifikasi batubara tidak hanya menghasilkan DME, tapi juga bahan bakar lain dan bahan baku industri kimia.

Dijelaskan dalam situs resmi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), karakteristik DME memiliki kemiripan dengan komponen Elpiji.

DME tediri atas propan dan butana, sehingga penanganan DME dapat diterapkan sesuai Elpiji.

Sumber DME

DME berasal dari berbagai sumber, baik bahan bakar fosil maupun yang dapat diperbarui.

DME merupakan senyawa bening yang tidak berwarna, ramah lingkungan, dan tidak beracun.

Selain itu, DME diklaim tidak merusak ozon, tidak menghasilkan particulate matter (PM) dan NOx, tidak mengandung sulfur, dan mempunyai nyala api biru.

DME mempunyai berat jenis 0,74 pada 60/600 F, dan pada kondisi ruang yakni 250 C dan 1 atm berupa senyawa stabil berbentuk uap dengan tekanan uap jenuh sebesar 120 psig (8,16 atm).

DME mempunyai kesetaraan energi dengan LPG berkisar 1,58-1,76 dengan nilai kalor DME sebesar 30,5 MJ/kg dan LPG 50,56 MJ/kg.

Awalnya, DME digunakan sebagai solvent, aerosol propellant, dan refrigerant.

Namun, saat ini sudah banyak digunakan sebagai bahan bakar kendaraan, rumah tangga, dan genset.

Dalam uji coba, efisiensi kompor LPG berkisar 53,75-59,13 persen dan efisiensi kompor DME sekitar 64,7-68,9 persen.

Road map pengembangan DME

Kementerian ESDM telah menyusun road map pengembangan dan pemanfaatan batu bara.

Akan dilakukan optimalisasi pemanfaatan batubara dalam negeri dengan penerapan tekonologi ramah lingkungan (clean coal technology) hingga tahun 2045.

Melansir Kontan, 1 September 2021, satu dari delapan program yang telah dirancang dalam road map pengembangan dan pemanfaatan batubara, yakni gasifikasi batubara untuk menghasilkan DME.

Gasifikasi batubara untuk menghasilkan DME dilaksanakan sebab kebutuhan LPG semakin meningkat. Saat ini, sebanyak 75-78 persen konsumsi LPG dalam negeri masih dipenuhi oleh impor.

“Produk hilirisasi batubara berupa DME dapat mensubstitusi LPG sedangkan methanol untuk menggantikan bahan baku industri kimia,” tutur Direktur Pembinaan Pengusahaan Batubara Kementerian ESDM Sujatmiko.

Dituliskan dalam situs resmi Kementerian ESDM, proyek coal to DME dilakukan oleh PT Bukit Asam yang bekerjasama dengan PT Pertamia dan Air Product di Tanjung Enim, Sumatera Selatan.

Investasi yang ditanamkan cukup besar, senilai 2,1 miliar dollar AS atau setara Rp 30 triliun.

Menurut rencana, proyek gasifikasi batu bara akan mengonsumsi 6 juta ton batubara per tahun, dengan target produksi DME sebesar 1,4 juta ton per tahun, dan mengurangi impor LPG 1 juta ton per tahun.

(*)

Artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul Apa Itu DME yang Disebut Bakal Gantikan Gas Elpiji?

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
KOMENTAR
869 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

© 2023 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved