Berikut Upacara Saat Wuku Kuningan di Bali

Tertulis di dalam lontar Sundarigama, hari suci pada wuku Kuningan dimulai pada hari Minggu Wage Kuningan yang disebut Pamaridan Guru. 

Editor: Karsiani Putri
Rizal Fanany
ILUSTRASI SEMBAHYANG 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Selain hari suci Kuningan, ada beberapa hari penting dalam wuku Kuningan.

Tertulis di dalam lontar Sundarigama, hari suci pada wuku Kuningan dimulai pada hari Minggu Wage Kuningan yang disebut Pamaridan Guru. 

Baca juga: Ini Penjelasan BBMKG Terkait Angin Puting Beliung di Pantai Ponjok Batu

Baca juga: Disebut-sebut Bakal Gantikan Gas Elpiji, Apa Itu DME? 

Umat Hindu meyakini, pada hari itu para dewa kembali ke surga dan meninggalkan anugerah kehidupan (amerta).

Serta umur panjang kepada setiap makhluk, terutama kepada manusia oleh para dewa di dunia ini. 

Oleh sebab itu, hari Pamaridan Guru juga disebut Ulihan atau pemulangan.

Umat Hindu di Bali membuat sesajen berupa tipat kelanan, canang raka, wangi-wangian, patirta gocara (air suci).

Sebagai ungkapan rasa bakti dan terimakasih, atas segala rahmat dan anugerah Ida Sang Hyang Widhi Wasa kepada umat manusia dan isi alam semesta. 

Selanjutnya, pada Senin Kliwon Kuningan disebut

Banyak orang percaya hari itu merupakan hari yang cukup menyeramkan.

Sehingga orang tua berpesan pada anaknya tidak main jauh, atau menaiki pohon. 

Tatkala Pemacekan Agung, umat menyuguhkan sesajen berupa segehan agung di jalan masuk rumah.

Dengan pula memotong ayam sumulung, atau ayam yang masih kecil.

Maknanya adalah agar seluruh pasukan bhuta kala dari Sang Bhuta Galungan mundur dan kembali ke alamnya, yaitu bhutaloka. 

Sehingga tidak menganggu keseimbangan dan keharmonisan alam semesta ini.

Bhuta disomia dengan sesajen suci agar energi positif kembali ke dunia ini.

Perlu diketahui, bahwa Sang Bhuta Galungan adalah bagian dari Sang Hyang Kala Tiga yang turun ke bumi sebelum Galungan. 

Sang Hyang Kala Tiga ini adalah Bhuta Dungulan, Bhuta Amengkurat, dan Bhuta Galungan.

Mereka bertujuan menggoda manusia agar tidak dapat mencapai kemenangan Dharma.

Untuk itulah umat Hindu di Bali mengenal yang namanya penampahan Galungan. 

Tak hanya Galungan, pada saat Kuningan pun dikenal penampahan Kuningan.

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved