Makna Penting Perayaan Siwaratri

Hindu di Bali menganut paham Siwa Sidanta, sehingga Dewa Siwa menjadi figur suci yang sangat penting selain Dewa Wisnu dan Dewa Brahma.

Editor: Karsiani Putri
Rizal Fanany
ILUSTRASI SEMBAHYANG 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Hindu di Bali menganut paham Siwa Sidanta, sehingga Dewa Siwa menjadi figur suci yang sangat penting selain Dewa Wisnu dan Dewa Brahma.

Salah satu hari paling baik memuja beliau adalah Siwaratri

Siwaratri adalah hari suci, hari dimana malam payogan Dewa Siwa.

Sejatinya Dewa Siwa selalu beryoga setiap bulan, yakni pada Purwani Tilem.

Perbedaannya, untuk perayaan Siwaratri dirayakan setiap tahun. 

Baca juga: Wisatawan Tembus 30 Ribu Orang/Hari Datang ke Bali

Siwaratri jatuh pada panglong ping 14, sasih magha krsna paksa atau sasih Kapitu sesuai perhitungan dalam kalender Hindu.

Payogan Dewa Siwa ini, juga harusnya diikuti oleh umat Hindu khususnya di Bali. 

Sebagai pengendalian diri dengan tapa brata dan yoga semadi.

Sehingga mampu menuju kesucian, sesuai ajaran agama dalam perjalanan spiritual menuju keseimbangan dan kerahayuan lahir batin. 

Dalam Kakawin Siwaratrikalpa, disebutkan beberapa hal yang harus dilakukan saat malam Siwaratri.

Salah satunya yang paling dikenal adalah dengan tetap melek atau jagra. 

Hal ini dijelaskan dalam Siwaratri Kalpa bait 37.2. Bunyinya, ri sampun i telas rahina ring wengi wiyata matangnya tan mrema/bhatara siwalingga kewala sirarcanan i dalem ikang suralaya/kumara nguniweh gajendrawadana ng ruhunanan sira kapwa pujanen/rikang rajani yama pat gelarana krama nira manuta ng sakabwatan. 

Kutipan artinya, setelah siang hari berlalu pada malam harinya patut melek jangan sekali-kali tidur/selalu memuja Sang Hyang Siwa dalam perwujudan Siwalingga yang bersemayam di alam Siwa/ didahului dengan memuja Hyang Siwa dan Hyang Gana pada malam harinya melakukan yamapat yang disesuaikan menurut batas kemampuan. 

Sehingga pada malam Siwaratri diupayakan jangan tidur, namun yoga semadi memuja Dewa Siwa juga Dewa Gana.

Sebagai upaya menggembleng diri menuju sifat sifat Sattwam.

Sebagai upaya umat manusia, mencapai tujuan akhir yaitu Moksartham Jagadhita Ya Ca Iti Dharma.

Atau mencapai kebahagiaan akhir dari kehidupan, yakni menyatu dengan Brahman (Tuhan). 

Untuk itu, jangan lewatkan hari suci ini tanpa memuja Dewa Siwa.

Berdasarkan tanggal, maka Siwaratri tahun 2022 tepat jatuh pada awal tahun yakni tanggal 1 Januari 2022.

Ada banyak purana yang bisa dibaca untuk kian memahami Dewa Siwa. 

Dikenal ada 18 atau Asta Dasa Purana yang membahas tentang kemuliaan dan keagungan Dewa Siwa.

Beberapa diantaranya adalah Brahma Purana, Visnu Purana, Markandeya Purana, Padma Purana, Skanda Purana, dan lain sebagainya.

Salah satu purana, yaitu Padma Purana menjelaskan ihwal Dewa Siwa dengan Dewi Parwati yang tinggal di gunung Kailasa (Kailas). 

(*)

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di
KOMENTAR
898 articles 182 0

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.


Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

BERITA TERKINI

© 2022 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved