Ini Makna Tumpek Wariga Berdasarkan Lontar Sundarigama

Dalam lontar Sundarigama dijelaskan, bahwa hari suci Tumpek Wariga juga dikenal dengan nama Tumpek Panguduh atau Tumpek Bubuh. 

Editor: Karsiani Putri
Rizal Fanany
ILUSTRASI SEMBAHYANG 

TRIBUN-BALI.COM, DENPASAR - Sebentar lagi umat Hindu di Bali akan merayakan hari suci Tumpek Wariga.

Tepatnya pada Sabtu (Saniscara) Kliwon, Wuku Wariga tanggal 16 Oktober 2021. 

Dalam lontar Sundarigama dijelaskan, bahwa hari suci Tumpek Wariga juga dikenal dengan nama Tumpek Panguduh atau Tumpek Bubuh. 

Bahkan ada pula yang menyebutnya Tumpek Uduh. 

Pada hari suci ini, umat Hindu disarankan melakukan persembahyangan dan membuat sesajen persembahan kehadapan Sang Hyang Sangkara sebagai dewa penguasa tumbuh-tumbuhan.

Makna hari suci ini adalah untuk memohon anugerah kepada Sang Hyang Sangkara agar memberikan kesuburan kepada tumbuh-tumbuhan sehingga dapat berbunga, berbuah, berdaun lebat, dan menjadi sumber kehidupan bagi umat manusia. 

Sedangkan bagi diri sendiri, makna Tumpek Panguduh adalah menumbuhkan pikiran dan batin yang esoterik melalui simbol pemberdayaan kekuatan cakra api di dalam diri.

Sebagai upaya menghadang pengaruh pikiran dan perasaan hati yang buruk.

Sehingga dengan perayaan hari suci Tumpek Bubuh ini, umat Hindu diharapkan mampu menumbuhkan kesuburan benih-benih kekuatan pikiran dan batin yang paling rahasia. 

Hari suci bagi tumbuh-tumbuhan ini juga sebagai lambang nilai kearifan lokal penerapan Tri Hita Karana.

Khususnya pada bagian Palemahan, yakni menjaga hubungan baik manusia dengan alam semesta dan segala isinya. 

Tri Hita Karana adalah tiga sumber kebahagiaan umat Hindu.

Yakni kebahagiaan yang muncul dengan menjaga hubungan baik manusia dengan Tuhan.

Kebahagiaan yang tercipta dari menjaga hubungan baik manusia dengan sesama manusia.

Serta menjaga hubungan baik manusia dengan alam semesta, lingkungan dan isinya. 

Dalam lontar Sundarigama pula dijelaskan, dalam perayaan hari-hari suci itu, ajaran Tri Hita Karana diimplementasikan melalui bentuk upacara, susila, dan tattws sebagai satu kesatuan.

Mengapa upacara kepada tumbuh-tumbuhan disebut hari suci. 

Sebab upacara persembahan kepada Tuhan dengan segala manifestasi beliau adalah wujud rasa bakti umat Hindu kepada Tuhan atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

Sebab Tuhan merupakan sumber segala yang ada di dunia ini. 

Baca juga: Berikut Ini 35 Hotel Karantina Bagi WNA yang Berkunjung ke Bali

Kemudian implementasi nilai yang mencerminkan hubungan manusia dengan Tuhan adalah bentuk sesajen persembahan yang ditujukan kepada Tuhan atau para dewa (Widhi Widana).

(*) 
 
 

Sumber: Tribun Bali
Ikuti kami di

BERITA TERKINI

berita POPULER

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved